Dampak kekurangan Zat Besi terhadap Kualitas Hidup

Dampak Kekurangan Zat Besi terhadap Kualitas Hidup

FAKTA:

Anemia masih menjadi masalah kesehatan global dengan hampir 2,3 miliar orang penderita — dengan perkiraan 50% karena ADB (Anemia Defisiensi Besi)8. ADB terus menjadi salah satu masalah kesehatan paling mendesak di Asia.

Jumlah penderita terbesar terjadi pada anak-anak dan wanita di wilayah Asia Tenggara, termasuk 96,7 juta anak-anak dan 202 juta wanita usia subur pada tahun 2011. Prevalensi anemia adalah 41,5% untuk wanita tidak hamil dan 48,7% untuk wanita hamil.

Penting untuk dicatat bahwa Anemia Defisiensi Besi (ADB) mempengaruhi kualitas hidup seseorang dalam beberapa aspek termasuk ekonomi dan fisik. Faktanya, ADB adalah penyebab utama DALY (Penyandang Disabilitas Seumur Hidup), ukuran dari keseluruhan beban penyakit dan tahun kumulatif yang hilang karena penyakit / cacat / kematian, dan YLD (Tahun kehidupan yang hidup dengan Disabilitas).

Menurut American Society of Hematology: Analisis sistematis beban anemia global dari tahun 1990 hingga 2010, anemia bertanggung jawab atas 68,3 juta YLD (8,8% dari total global), lebih dari depresi berat, penyakit pernapasan kronis, dan totalitas cedera. Total anemia YLD meningkat pada semua umur antara tahun 1990 dan 2010.

Kekurangan zat besi mempunyai peran penting dalam kualitas hidup keseluruhan.

BESI DAN DAMPAK EKONOMI (PRODUKTIVITAS & KESADARAN)

Dampak Kekurangan Zat Besi terhadap Kualitas Hidup

Pertama-tama, besi memiliki hubungan yang kuat dengan produktivitas dan kesadaran, yang pada akhirnya berdampak pada aspek ekonomi seseorang.

Anemia adalah suatu kondisi kesehatan di mana jumlah sel darah merah atau hemoglobin dalam tubuh tidak mencukupi. Salah satu tipe yang paling umum adalah IDA — anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi. Zat besi membantu membuat sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. IDA dan kekurangan zat besi berdampak pada kapasitas pengangkutan oksigen seseorang, yang mempengaruhi produksi energi, kapasitas kerja, dan perkembangan kognitif.

PRODUKTIVITAS & KINERJA FISIK

IDA dapat mempengaruhi jenis pekerjaan dan tugas yang dapat dilakukan seorang individu dan waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan dan penghasilan mereka. Misalnya, karena berkurangnya cadangan zat besi dalam tubuh, mereka yang menderita IDA cenderung kurang produktif di tempat kerja. Mereka mengalami keletihan dan cenderung mudah lelah.

Kekurangan zat besi dan anemia berkaitan dengan peningkatan kelelahan, kinerja olahraga yang lebih buruk dan produktivitas kerja yang lebih rendah.8 9 10 11 Karena IDA, pengantaran oksigen dalam tubuh terbatas dan akan menurunkan energi seseorang. Ketika seseorang merasa lesu dan lemah, itu mungkin bukan sekedar "kelelahan". Penting untuk memeriksa kadar zat besi untuk mengatasi kelesuan ini.

Untungnya, ada penelitian dan bukti yang menunjukkan bahwa penggantian zat besi dapat mengurangi kelelahan dan meningkatkan kinerja fisik.12

KESADARAN

Seperti yang disampaikan oleh Dr. Michael Low, ahli hematologi di Monash Medical Centre di Victoria, Australia, anemia dikaitkan dengan perkembangan kognitif yang lebih buruk. Semakin parah anemia, semakin buruk hasilnya.

IDA merusak kesadaran dari seorang individu — kemampuan yang terkait dan terjalin dengan IQ (Intelligence Quotient). Kognisi dan perkembangan kognitif sangatlah penting dalam mengingat, memecahkan masalah, dan membuat keputusan, dimana semuanya penting untuk membantu efektifitas tugas seseorang.

Statistik dari Strenze T. Intelligence 2007 dan 2007 Zagorsky JL Intelligence menunjukkan bahwa skor kognitif berkorelasi dengan pendapatan. Meskipun penelitian ini tidak menunjukkan hubungan antara skor kognisi / IQ dan kekayaan, namun pendapatan dan IQ masih terkait. IQ dikaitkan dengan peningkatan pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan.

Dr. Low menyatakan bahwa penggantian zat besi pada individu dengan defisiensi besi dapat meningkatkan hasil kognitif pada usia 5-12 tahun, terutama pada mereka yang mengalami anemia, dan harus dibentuk secara tepat waktu. Intervensi awal adalah kuncinya.

ZAT BESI DAN NUTRISI IBU

Salah satu fakta mapan di bidang medis adalah bahwa wanita usia reproduksi membutuhkan dua kali lipat jumlah zat besi. Ini meningkat hingga lebih dari tiga kali dalam jika di masa kehamilan. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi sangat tinggi sehingga suplemen zat besi direkomendasikan terutama selama trimester ke-2 dan ke-3 ketika penyimpanan zat besi bayi sedang terbangun.

Namun, tantangan besar yang sedang dihadapi seluruh dunia adalah tentang nutrisi sang ibu.

Anemia defisiensi besi dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu. 5% kematian ibu disebabkan oleh anemia defisiensi besi (IDA). Kekurangan zat besi seorang ibu dikaitkan dengan berkurangnya cadangan zat besi pada janin, retardasi pertumbuhan intrauterin, prematuritas dan berat lahir rendah. IDA juga terkait dengan pertumbuhan terhambat dan berdampak pada perkembangan kognitif anak.

Anemia ibu dan anak terutama disebabkan oleh kekurangan zat besi. Penyebab mendasar termasuk akses dan asupan yang tidak memadai ke makanan kaya nutrisi untuk ibu dan anak, pengasuhan anak yang tidak memadai, dan penggunaan layanan kesehatan khusus dan preventif yang tidak memadai.

Kekurangan zat besi kronis dan anemia pada anak-anak juga menyebabkan konsekuensi perkembangan saraf seperti risiko dalam mengembangkan struktur otak, sistem neurotransmitter dan mielinisasi. Selain itu, mereka juga tergolong dalam risiko penurunan fungsi kognitif yang mempengaruhi memori, rentang perhatian, kecerdasan dan kinerja sekolah.

Selain itu, anemia pada anak-anak dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan distorsi tulang, hepatosplenomegali, kemungkinan penundaan pubertas dan perubahan fungsi jantung. Kekurangan zat besi memiliki dampak negatif pada kognisi anak, perilaku dan keterampilan motorik yang dapat memiliki implikasi negatif di jangka panjang.5 Semua ini menunjukkan bahwa anemia dan IDA adalah ancaman kesehatan serius yang memerlukan perhatian segera dari perawatan prenatal sampai ke perawatan anak.

Mempertimbangkan masalah kesehatan ini, Dr. Bhutta berbagi beberapa intervensi di seluruh siklus hidup yang dapat membantu mengatasi situasi ini. Dia merekomendasikan intervensi berikut yang akan membantu mengatasi anemia pada wanita hamil: perawatan prakonsepsi, suplementasi asam folat, suplementasi mikronutrien multipel, suplementasi kalsium dan suplementasi energi seimbang di antara wanita hamil.13

Secara keseluruhan, statistik global yang mengkhawatirkan tentang IDA, terutama selama kehamilan dan pada anak-anak, adalah sebuah pencerahan. Ini adalah panggilan untuk kesadaran dan pendidikan yang lebih kuat, baik untuk penyedia layanan kesehatan dan juga pasien, tentang pentingnya suplementasi zat besi dan bahaya dari anemia.

REFERENSI:

  • 8 Micronutrient deficiencies. Iron Deficiency Anemia. World Health Organization website. https://www.who.int/nutrition/topics/ida/en/

  • 9 Haas, Jere D. et.al. Iron Deficiency and Reduced Work Capacity: A critical review of the research to determine a causal relationship. ©2001 American Society for Nutritional Sciences

  • 10 Low, MSY et al. Daily iron supplementation for improving anaemia, iron status and health in menstruating women (Review) ii Copyright © 2016 The Cochrane Collaboration. Published by JohnWiley & Sons, Ltd.

  • 11 Scholz, Barbara et al. Anaemia is associated with reduced productivity of women workers even in less-physically-strenuous tasks. British Journal of Nutrition (1997), 77, 47-57

  • 12 Vaucher P. et al. Effect of iron supplementation on fatigue in nonanemic menstruating women with low ferritin: a randomized controlled trial. CMAJ. 2012 Aug 7;184(11):1247-54.

  • 13 Bhutta, Zulfiqar, et al. Maternal and Child Nutrition2. Lancet 2013; 382:452-77